-->

"Uqbah bin Amir Al-Juhani", Penggembala yang Jadi Panglima

Nyanyian pujian menyeruak ketika Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar beserta sahabat tiba di kota Madinah. Suka cita nampak dari wajah-wajah yang berseri menanti sang pujaan hati, Nabi SAW.
Begitulah arak-arakan mengiringi Rasulullah yang berjalan perlahan-lahan di antara barisan masyarakat Madinah. Hati mereka diselimuti kebahagiaan karena bisa melihat manusia suci.

Namun sayang, iring-iringan kebahagiaan menyambut kedatangan Rasulullah di Madinah itu terlewatkan oleh sosok penggembala bernama Uqbah bin Amir Al-Juhani. Ia tak bisa datang bersama yang lain karena sedang sibuk menggembala domba di gurun pasir. Hanya domba itu harta miliknya. Dia kuatir domba-domba itu akan mati kehausan dan kelaparan jika dibiarkan.

Karena cerita dari mulut ke mulut atas kedatangan Rasulullah ini mengharu biru, Uqbah tak tahan untuk melihat sang Nabi. Uqbah pun meninggalkan domba-dombanya,dan berangkat menemui Rasulullah. Saat berada di depan nabi, Uqbah berkata, "Berkenankah Tuan membaiat saya, ya Rasulullah?"

"Siapakah engkau?" tanya beliau. "Saya Uqbah bin Amir Al-Juhani."

"Baiat bagaimana yang kau kehendaki. Baiat Arabi atau baiat hijriah?" tanya Rasulullah.

"Seperti yang Tuan lakukan terhadap penduduk Madinah", jawab Uqbah.

Lalu Rasulullah membaiatnya seperti baiat kaum Muhajirin. Ia bermalam di tempat Rasulullah dan baru keesokan harinya kembali menggembalakan domba.

Uqbah tidak sendiri ketika masuk Islam. Ia bersama 12 temannya telah masuk Islam. Mereka bermukim jauh dari keramaian Kota Madinah, menggembalakan domba di gurun-gurun dan lembah.

Suatu hari, Uqbah pun mendiskusikan keberadaannya yang jauh dari Madinah. Ia merasa tak bisa banyak belajar agama, sementara domba-dombanya membutuhkan perawatannya. Akhirnya bersama teman-temannya sepakat untuk mengutus satu orang belajar ke Madinah, yang lain tetap menggembala.

Secara bergantian mereka menemui Rasulullah dan mengajarkan apa yang didapat kepada teman-teman mereka yang bertugas menggembalakan domba, kecuali Uqbah. Ia bersedia untuk tidak menemui Rasulullah karena harus menjaga gembalanya.

Lama kelamaan Uqbah merasa rugi, karena tidak bisa berdampingan dengan Rasulullah, menyimak pengajaran langsung dari beliau tanpa perantara. Lalu ia meninggalkan domba-domba tersebut, dan berangkat ke Madinah, untuk tinggal dan menetap di masjid, di samping Rasulullah SAW.

Ketika mengambil keputusan yang menentukan itu, tidak pernah terlintas dalam pikiran Uqbah, bahwa pada suatu waktu dia akan menjadi seorang alim besar di antara para sahabat yang ulama-ulama besar. Dia akan menjadi salah satu qari (ahli baca Al-Qur'an) di antara para qari terkemuka lainnya.

Dia tidak pernah menyangka kelak ia menjadi tentara yang bakal membebaskan Damaskus dan bakal mendiami istana di sebuah taman nan indah menghijau dekat Bab Tuma. Dia juga tak pernah membayangkan akan menjadi panglima, penakluk permata dunia yang indah subur, yaitu Mesir dan menjadi penguasa negeri itu.

Uqbah selalu mendampingi Rasulullah SAW. Dia pemegang tali kendali baghal Rasulullah dan menuntunnya ke mana beliau pergi. Dia berjalan di hadapan beliau setiap bepergian. Bahkan terkadang Rasulullah memboncengnya di belakang, sehingga Uqbah digelari para sahabat "Radif Rasulullah" (Pembonceng Rasulullah).

Bahkan, Rasulullah pernah turun dari bahgal dan menyilahkan Uqbah menunggangi binatang tersebut, sedangkan beliau berjalan disampingnya. Uqbah ingin menampik perintah Rasulullah itu, tapi ia takut mendurhakai utusan Allah. Rasulullah bersabda, "Wahai Uqbah, maukah engkau kuajarkan dua surah yang nilainya tak ada banding di sisi Allah?"

Uqbah mengiayakan. Kemudian Rasulullah membaca surah An-Nas dan Al-Falaq. "Bacalah dua surah tersebut setiap engkau hendak tidur", ujar Rasulullah. Sejak itu, Uqbah senantiasa membaca kedua surah itu di sepanjang hidupnya sesuai dengan petunjuk Rasulullah.

Uqbah memusatkan perhatiannya kepada dua bidang yang sangat penting; ilmu dan jihad. Bahkan, ia tak segan-segan mengorbankan segala-galanya dan tanpa mengenal lelah untuk memperoleh keduanya.

Uqbah langsung berguru kepada Rasulullah. Sehingga dia berhasil menjadi qori yang benar, fasih, hafal, dan faham maknanya. Ia menjadi ahli hadis, fikih, faraidh (ilmu kewarisan). Selain itu, ia juga seorang pujangga dan penyair yang memiliki suara terindah di antara para sahabat Rasulullah.

Uqbah meninggalkan sebuah warisan yang tak ternilai harganya. Sebuah mushaf hasil karya tangannya sendiri! Mushaf tersebut belum lama ini masih berada di sebuah Universitas Jamiah Uqbah bin Amir Al-Juhani di Mesir. Benda itu adalah mushaf terkuno di antara semua mushaf yang pernah ditemukan.

Di bidang jihad, Uqbah ikut dalam Perang Uhud dan peperangan lainnya. Dalam peperangan menaklukkan Damaskus, Uqbah juga diangkat menjadi perwira dalam ketentaraan kaum Muslimin untuk menaklukkan Mesir. Saat pucuk pimpinan kaum Muslimin dipegang oleh Muawiyah bin Abu Sufyan, ia diangkat menjadi gubernur di Negeri Piramida itu.

Setelah memegang jabatan selama tiga tahun, Muawiyah menugaskannya ikut dalam peperangan menaklukkan Rodhes di Laut Tengah. Uqbah menyimpan banyak pengalaman dalam peperangan. Ia terkenal sebagai seorang pemanah jitu.

Ketika menjelang wafatnya, ia berada di Mesir. Ia kumpulkan semua anak-anaknya dan berwasiat kepada mereka, "Wahai anak-anakku, aku melarang kalian untuk melakukan tiga hal. Pertama, jangan menerima hadis Rasulullah kecuali dari orang yang tsiqah (dipercaya). Kedua, jangan berutang, sekalipun pakaian kalian compang-camping. Ketiga, jangan menulis syair sehingga menyebabkan hati kalian lalai dengan Al-Qur'an!"

Uqbah bin Amir Al-Juhani dimakamkan di kaki bukit al-Muqatham di daerah Mesir. Ketika diperiksa beberapa peninggalan, terdapat 77 busur panah. Setiap busur mempunyai tempat anak panahnya. Uqbah berpesan agar busur-busur tersebut dimanfaatkan oleh kaum Muslimin dalam berjihad di jalan Allah.