Mengurangi Dampak Diabetes dengan Mengonsumsi Sambiloto
Kemampuan sambiloto untuk mengontrol kadar gula darah tidak diragukan. Tapi mengonsumsi secara berlebihan juga tidak dianjurkan karena dapat mengakibatkan merendahkan kadar gula darah.
Banyak orang menganggap penyakit diabetes atau penyakit gula ini merupakan penyakit yang pelan-pelan menggerogoti tubuh. Saat penyakit diabetes sudah parah banyak orang putus asa.
Segala macam usaha dilakukan untuk mengobati penyakit yang merusak kemampuan tubuh untuk menghasilkan insulin tersebut. Mulai dari diet karbohidrat, menggunakan daun insulin hingga memakan sambiloto.
Sambiloto juga dipercaya mampu mengobati diare, sembelit, gas usus, masalah pernafasan, infeksi hingga masalah masalah kulit. Meski demikian pemilik dari nama latin Andrographis paniculata tersebut merupakan salah satu tanaman yang dimanfaatkan untuk mengatasi penyakit diabetes.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Program pascasarjana Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan Akademi Farmasi Samarinda menemukan bahwa ekstrak herba sambiloto diklaim mampu meningkatkan efek penurunan glukosa darah pada diabetes melitus tipe 2.
Namun apabila sambiloto dicampur dengan metmorfin, efek antidiabetes yang ada pada sambiloto akan berkurang atau bahkan hilang. Lain halnya jika digunakan secara mandiri agar sambiloto sebagai pengurang kadar gula dalam darah akan sangat efektif.
"Dari hasil penelitian diatas disimpulkan bahwa kombinasi ekstrak sambiloto terpurifikasi dengan metmorfin tidak meningkatkan potensi antidiabetes dari penggunaan tunggalnya", ungkap penelitian yang ditulis oleh Eko Siswanto Samsul Agung Endro Nugroho serta Sujiwo Pramono yang diterbitkan pada Majalah Obat Tradisional pada tahun 2011 tersebut.
Berbeda halnya dengan penggunaan sambiloto secara tunggal sebagai obat antidiabetes. Salah satu yang menjadi ciri khas dari tanaman sambiloto ini adalah terdapatnya komponen aktif yang diberi nama Andrographolide. Andrographolide merupakan komponen sambiloto yang mampu menghambat pertumbuhan Plasmodium falciparum penyebab malaria serta efektif untuk melancarkan infeksi saluran pernapasan bagian atas.
Tidak hanya itu sambiloto juga memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli penyebab diare. Meski dianggap sebagai tanaman obat antimikroba, sambiloto dinilai tidak memiliki efek antibakteri Salmonella typhi penyebab penyakit demam tifus.
Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Adrian Sikumalay, Netti Suharti dan Machdawaty Masri berjudul efek antibakteri dari rebusan daun sambiloto (Andrographis paniculata nees) dan produk herbal sambiloto terhadap Staphylococcus aureus membuktikan bahwa sambiloto bukan obat antibakteri penyebab infeksi.
Meski demikian kemampuan sambiloto untuk menurunkan kadar gula darah tidak diragukan kembali. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sudarmi dkk yang berjudul 'Anti-diabetic activity of sambiloto extract to decrease blood glucose level of aloxan-induced diabetec rat', sambiloto diklaim mampu menurunkan kadar gula darah dalam tubuh. Saking kuatnya dampak menurunkan gula darah mengkonsumsi sambiloto secara berlebihan dapat mengakibatkan kadar gula darah terlalu rendah atau hipoglikemia.
Itulah mengapa Islam mengajarkan kepada umatnya untuk mengonsumsi sesuatu sesuai dengan takarannya. Jika berkurang tidak bermanfaat, jika berlebihan menyebabkan penyakit.



Posting Komentar